WEALTH = NILAI TAMBAH X LEVERAGE

WEALTH = NILAI TAMBAH X LEVERAGE

Artikel majalah Globe bulan Agustus yang lalu menarik perhatian saya. Di majalah itu disebutkan omzet 100 perusahaan-perusahaan terbesar di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa grup Alfamart diperkirakan omzetnya menembus 7 Triliun tahun ini. Bayangkan, supermarket mini di pinggir jalan itu total omzetnya mencapai 7 Triliun!
Pikiran saya, apa susahnya jualan kripik kentang? Mulailah saya survey kekiri dan kekanan. Saya Tanya teman-teman saying yang sedikit lebih mengerti bisnis ini. Kurang lebih saya menjadi tahu, bahwa sebagai master franchisor,Alfamart medapatkan profit margin 4%. 2% dari supplier dan 2% lagi dari mark-up kepada franchisee. 4% dikali 7 Triliun adalah 280 Miliar. Hmm, not bad, buat penjual kripik kentang.
Saya berfikir, apa susahnya bikin inimarket saingannya. Bisnis modelnya kan sederhana. Sewa toko, beli rak dan kemudian men-display-nya dengan baik. Penentuan lokasi tidak perlu susah-susah. Dimana ada Alfamart dan Indomart, saya buka saja disana.
Tinggal kita kasih nilai tambahnya dibandingkan Alfamart. Bagaimana kalau displaynya lebih rapi. Circle-K di Bali berhasil karena displaynya sangat baik dibandingkan dengan minimarket sejenis. Oh ya Circle-K itu juga lebih bersih, kacanya lebih bening dan lampunya lebih terang.
Jadi kalau saya bikin minimarket sejenis, yang saya kasih nilai tambah, lokasi parker lebih baik, display lebih cantik dan rapi, kaca yang lebih bening dan lampu yang lebih terang, maka minimarket saya kemungkinan akan bisa bersaing. Dan hmm.. mungkin saya bisa provide service yang lebih baik. Background saya adalah perusahan jasa, tentunya DNA melayani-nya lebih baik dibandingkan dengan perusahaan distribusi. Barang yang dijual kan sama-sama aja. Keripik kentang, minuman ringan dan sebagainya.
Yang saya perlukan adalah visibility, bahwa minimarket sayam katakanlah namana Lestari-Mart mempunyai keunggulan. Saya tinggal pilih satu lokasi dimana saya bisa mengungguli dua pesaing utama saya itu (Alfamart dan Indomart), selebihnya saya bisa mem-franchise-kan Lestari-Mart ke seluruh Indonesia. Kalau saja bisa membangun jaringan 5000 toko, omzetnya per toko 100 juta sebulan. Setahun tinggal mengalikannya saja. 5000 x 100 juta x 12 = 6 Triliun. Toh membangunnya jug atidak pakai modal sendiri. Kalau bisa membangun 50 saja jaringan sendiri, sisanya kan tinggal mengalikan sendiri menggunakan modal franchisee. Wealth tercipta ketika kita bisa me-leverage nilai tambah.
Wealth = Nilai tambah x Leverage
Teman-teman saya menertawakan ide saya membangun jaringan Lestari-Mart. Kata mereka 1000% pasti gagal. Karena tidak bisa bersaing dengan perusahaan se-gede gajah seperti Alfamart dan Indomart. Tidak mungkin bisa menang. Mereka membelinya saja sudah bisa lebih murah. Sementara bisnis ini sangat kompetitif, price sensitive. Sangat komoditif, beda harga 50 rupiah saja, pelanggan sudah lari. Kalau tidak benar-benar murah, jangan harap bisa bersaing.
So, Bapak/Ibu sekalian, what do you think? Tidak masalah, saya akan gagal atau berhasil. Lesson learned dari kasus Alfamart ini menurut saya adalah ketika kita bisa menciptakan nilai tambah, sekecil apa pun nilai tambah itu, kita bisa mentransformasikannya menjadi great wealth, yaitu dengan memberikan faktor kali. Bahkan penjual ‘keripik kentang’-pun omzetnya bisa 7 Triliun.
By : Alex P. Chandra – Direktur Utama BPR Lestari
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *