POLITIK WARUNG KOPI

Secangkir kopi panas ditemani satu atau dua potong pisang goreng ala rakyat, disempurnakan dengan aroma nikotin kental yang mengepul tanpa dosa. Beberapa lelaki dalam interval usia yang berjauhan secara diametral, berkumpul melepas penat dari ritual hidup. Yang awalnya saling tidak kenal, kemudian saling menawarkan rokok, berlanjut ke pertemuan rutin setiap sore di bawah atap baner produk obat sakit kepala.

Itulah deskripsi khas sebuah warung kopi. Sederhana, jauh dari bau ekslusivisme coffe latte ala starbucks. Merakyat, akrab dengan nuansa keringat kaum urban yang termarginalkan. Tapi hangat, sekarang lebih trend disebut dengan angkringan, dan nama kopinya pun berganti nama dengan kopi KLOTOK.

Transaksi jual beli antara  pemilik angkringan atau warung kopi dengan pelanggannya, boleh jadi merupakan bingkai ritual yang familiar dari sebuah warung kopi. Tapi itu dulu, kawan. Transaksi jual-beli secangkir kopi itu tentu saja ada, akan tetapi dalam perkembangannya, ritual yang terjadi tidak berhenti sampai di sana.

Obrolan-obrolan yang dulu hanya berkisar tentang harga gabah di pasar atau Minyak Goreng yang harganya  meroket tajam, sekarang telah berkembang jauh melesat ke segala penjuru sudut kehidupan. Mulai dari gosip Reshufle Kabinet sampai dengan calon Presiden di th 2024 semua tersaji lengkap dalam menu obrolan sehari-hari. Membicarakan sepak terjang Presiden yang dulu dianggap tabu dan angker, sekarang seolah semudah menelan bubur kacang hijau. Mencerca perilaku korup dewan yang terhormat, kini tanpa diembel-embeli ketakutan orde baru.

Masyarakat telah menemukan embrio kebebasan berbicara setelah dikukung bertahun-tahun dalam fatamorgana feodalisme bertopeng swasembada beras. Menuju titik kritis dalam kurva perjalanan demokrasi yang lama mati suri.

Maka tidaklah berlebihan ketika sebuah pendapat berbicara bahwa kini ada dua kekuatan besar sebagai pengontrol pemerintahan yang berdaulat. Bukan parpol yang memproklamirkan diri sebagai oposisi, bukan juga kalangan legislative yang dipenuhi artis. Akan tetapi media massa dan rakyat. Meski bentuk kontrol ini hanya bersifat sporadis, bahkan hanya berakar dari petak-petak warung kopi di sudut-sudut gang, tetapi jangan pernah meremehkan kekuatannya.

Rakyat telah berkembang sedemikian cerdas tanpa kurikulum, tanpa silabus pendidikan. Teknologi informasi sudah menyajikan akses informasi yang meluap-luap seperti segelas teko dengan isi yang meluber dari A sampai Z. Bagi mereka yang tidak cukup modal untuk bergaul dengan akses-akses informasi super cepat itu, cukup datang ke warung kopi. Semua tersaji lengkap, selengkap menu empat sehat lima sempurna. Panas, sepanas kopi Klotok Hitam diAngkrinagn ujung gang. Dan kental, sekental aura kebersamaan yang dibangun masyarakat pinggiran jauh dari radius metropolitan.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *